Oleh: silmi | November 22, 2008

asal nama jalan part 2

4. Gondangdia

Nama Gondangdia cukup di kenal oleh kalangan masyarakat asli jakarta karena sering di sebut dalam lagu Betawi “Cikini di Gondangdia, badan begini lantaran dia”.

Ada beberapa versi asal penamaan gondangdia. Versi Pertama, Gondangdia berasal dari nama pengembang yang ditunjuk belanda untuk membangun kawasan menteng, Yaiutu NV Gondangdia. Versi Kedua, berasal dari nama kakek yang terkenal dan disegani di kampung tersebut. kakek tersebut sering di sebut kyai kondang. Karena terkenal, nama kyai itu sering disebut-sebut dan dikaitkan dengan nama daerah tersebut. Akhirnya nama tersebut dikenal Gondangdia ( kakek dia yang tersohor )

5. Kwitang

Nama Kwitang berasal dari nama orang cina yang kaya raya bernama Kwik Tang Kiam. Dia seorang tuan tanah yang memiliki semua tanah di kawasan tersebut.

6. Petojo

Berasal dari nama seorang pimpinan orang-orang Bugis yang pada tahun 1663 diberi hak pakai kawasan tersebut, bernama Aru Petuju. Oleh betawi, petuju diucapkan Petojo

7. Krukut

Asal usul nama Krukut mempunyai beberapa versi. Versi Pertama, Krukut berasal dari sindiran yang diberikan pada orang yang hidupnya sangat hemat atau pelit ( Krokot ). Orang betawi menyebut orang-orang arab yang banyak tinggal di kampung tersebut dengan Krukut, dengan mengubah kata krokot menjadi krukut.

Versi Kedua, Krukut berasal dari bahasa belanda kerkhof yang berarti kuburan. Pada masa lalu kampung tersebut memang merupakan tempat kuburan orang-orang betawi.

8. Glodok

Ada dua pendapat mengenai asal usul nama kawasan ini. Ada yang mengatakan berasal dari kata “grojok”, suara kucuran air dari pancuran. Lidah orang tionghoa mengubah kata grojok menjai Glogok. Dulu, disana terdapat semacam waduk penampungan air dari kali ciliwung yang dikucurkan dengan pancuran dari kayu dengan ketinggian sekitar 10 kaki.

Keterangan lainya menyebutkan, bahwa kata glodok di ambil dari sebutan terhadap jembatan yang melintas kali besar (ciliwung) di kawasan itu, yaitu jembatan Glodok. di sebut demikian karena dahulu diujungnya terdapat tangga yang menempel pada tepi kali, yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh penduduk sekitarnya. Dalam bahasa sunda, tangga semacam itu di sebut Glodok.

9. Pinangsia

Nama jalan di dekat pertokoan Glodok ini berasal dari bahasa Belanda “financien ” yang artinya keuangan. Ada juga yang mengatakan di tempat ini dulunya ada departement van financien, alias departemen keuangan. Oleh lidah orang betawi, kata financien berubah menjadi pinagsia.

10. Kali Angke

Kata angke berasal dari bahasa cina. Ang = darah, ke = sungai. Kata ini didasarkan pada peristiwa pembantaian orang-orang etnis cina oleh belanda di tahun 1740. Mayat orang-orang cina yang bergelimpangan dihanyutkan di kali yang ada di dekat peristiwa itu. Sehingga kali yang penuh dengan mayat itu berganti nama dengan kali angke. Sebelum peristiwa tersebut terjadi, kampung tersebut bernama kampung bebek, hal ini dikarenakan orang cina yang tinggal dikawasan tersebut banyak yang beternak bebek.

11. Pluit

Sekitar tahun 1660, di pantai sebelah timur muara kali angke diletakan sebuah Fluitschip (kapal panjang ramping), bernama Het Witte Paert, yang tidak layak melaut. Kapal ini digunakan menjadi kubu pertahanan untuk membantu benteng Vijhoek yang terletak dipinggir kali grogol, sebelah timur kali angke, dalam menanggulangi serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan bersenjata kesultanan banten. kubu tersebut dikenal dengan sebutan De Fluit.

12. Marunda

Marunda berasal dari kata “merendah”. Menurut cerita turun temurun, sifat penduduk asli disini memang baik hati, menjauhi sifat sombong yang dilarang agama.

Nama Vegetasi

Jakarta dulunya kaya akan berbagai pohon dan buah-buahan. Buktinya, beberapa tempat dinamakan sesuai dengan pohon yang banyak ditemukan di tempat itu. Misalnya saja daerah yang banyak pohon jatinya, di beri nama dengan kata “Jati”. Misalnya saja Jatinegara, Jatipadang, Kramatjati, dan lain-lain. Ada juga yang menggunakan nama buah-buahan, Misalnya Pedurenan, Kampung Rambutan, Menteng, Kebon Jeruk, kebon Kacang.

Nama Suku

Dari dulu, jakarta adalah tempat persinggahan para pendatang dari berbagai daerah. Para pendatang tersebut biasanya hidup berkelompok sesuai dengan suku ayau etnisnya, sehingga lama-kelamaan terbentuk menjadi kampung. Nama kampung pun diambil dari suku/etnis mereka misalnya Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bali, Kampung Bugis, Manggarai, Pekojan, Pejambon.

Rawa-Rawa

Kampung Pulo, Pulomas.Banyak nama daerah di jakarta menggunakan kata rawa. Misalnya saja Rawamangun, Rawajati, Rawasari, dan Rawabelong. Ini menunjukan bahwa daerah tersebut dulunya rawa-rawa. Juga ada pula dengan “pulo”, yang menunjukkan bahwa dulunya daerah tersebut dikitari oleh pulo (air). Contohnya Pulogadung,


Beri tanggapan

Your response:

Kategori